Jumat, 03 Januari 2014

Sekelumit saja

Berawal dari sebuah setatus dalam media sosial seorang mantan, atau mungkin lebih terhormat jika alumni, PC IPNU Kab.Banyumas. Mungkin setatus itu terbentuk akibat momen tahun baru yang juga diwarnai dengan penggerebegan terduga teroris. Setatusnya demikian:

"Banyumas menjadi spot sarang teroris. Hari ini Kemranjen, besok mana lagi? Sumpiuh, Purwojati, Wangon, Baturaden, Banyumas, atau potensi lainnya kah? Mari bersama-sama menjaga wilayah masing-masing dari ancaman teroris yang merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. NKRI dan PAncasila harga mati."

Awalnya setatus tersebut aku tangapi sebagai candaan. Tapi kemudian muncul gagasan komentar menarik. jadi saya berkomentar begini:

"Teror adalah bentuk kejahatan yang tidak bisa dibuktikan. Apalagi dugaan teroris. Baru sekedar terduga tapi sudah dihukum mati karena baku tembak dengan Salep Kulit 88. Dengan diberitakan melawan ketika hendak diperiksa. Saya kira cacing pun akan ngulet ketika terinjak". Apalagi kalau digejug?

Kemudian komentar saya itu mendapat sambutan dari pihak lain yang kemudian menyebut nama saya dalam komentar tersebut. Begini komentarnya:

"Sejatinya ketika seseorang atau kelompok menganggap sistem demokrasi NKRI(yang sudah disepakati oleh mayoritas) sebagai haram, itu sudah kategori teror dan subversif".

Sebenarnya apa itu subversif saya tak tahu. Tapi kemudian saya berujar juga seperti ini:

"Teroris itu bukan mengancam NKRI. kan sudah dirulis diatas? NKRI harga mati. jd sudah tidak bisa ditawar lagi. yang jadi ajuan saya itu masalah su'udhon hati kita. itu yang pertama. lalu kemudian hak hidup yang dirampas cuma sekedar menjadi terduga teroris. 
Sekalian saja sebut merek disini biar nanti Salep Kulit 88 meng-dor satu demi satu setiap yang kita su'udhoni atau paling tidak mereka yang berpeluang ikut-ikutan mengusik NKRI. Kan kiranya ini seperti tragedi 65 kecil-kecilan. Cuma dengan bukti tercatat sebagai anggota sudah ikutan dikeruk dan dibuan gke kali. padahal sama sekali tidak tahu duduk perkaranya yang di atas. Masa iya mau mengulang tragedi itu lagi dengan musuh yang berbeda? Sementara Gus Dur pernah meminta maaf kepada korban tragedi 65 saat beliau masih menjabat sebagai presiden. Dan sekarang NU pula yang tebitkan buku putih tentang tragedi tersebut.
Dari pada meributkan NKRI mending membenahi pemerintah saja lah. untuk sementara ini apalah arti sebuah nama, termasuk NKRI. Urusin yang penting dulu lah. Rakyat damai, aman, nyaman, kerasan, Banyak pegaweyan, apapun bentuk dan namanya saya dukung. tak harus NKRI jika itu memang solusi."

Dan masih panjang lagi komentar itu bersambut. Tapi tak lagi cakap. Dan pula tulisan ini tak hanya untuk komentar-komentar tersebut saja. Lebih peting mengenai bagaimana menyikapi terorisme di Indonesia. Baru- baru ini saya membaca dalam sebuah Harian Kompas, kalau tidak salah, bahwa beberapa Ulama Sunni dari mancanegara datang ke indonesia untuk berdialog dengan aki-aki dari Ngeruki. Itu salah satu jalan terbaik. Kalau memang Sunni itu idiologi yang benar sesuai tihtah Baginda Rosul, maka bukalah dialog itu menjadi umum. Biar semua oran tahu bahwa tingkah teroris itu tidak dibenarkan oleh agama Islam. Bahkan agama manapun.

Jangan pula terburu-buru berhati kepada teroris yang extrim. Apapun itu, jalan mereka akan hampir selalu extrim. Cobalah dulu untuk menyelesaikan soal Sampang Madura dengan sikap Plural. Bahwa warga Syi'ah secepanya dipulangkan keasalnya tanpa memaksanya untuk keluar dari syi'ah.

Kan syi'ah islam pula? kenapa pula harus keluar dari islam? Tanpa peduli dengan semua justru petinggi memilih mempersiapkan utnuk Pileg-pilpres. Apa memang mau pileg sampe setres???