Selasa, 24 Mei 2016

Selamat Belajar Menulis Kawan

Menulislah maka kamu akan hidup abadi. Kata Pramoedya, seorang sastrawan indonesia yang ditapolkan oleh orde baru. Atau ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Kata Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib kw. Dua kalimat itulah yang menggugah kepenulisan. Kedua-duanya mengajak untuk menulis dengan latar yang berbeda. Yang satu untuk kehidupan yang abadi sedang yang lain untuk ilmu.
Dalam kalimat pertama menawarkan kehidupan abadi yang jelas mustahil terjadi. Tapi dengan menulis nama kita tidak akan lekang oleh waktu. Kata pepatah macan mati meninggalkan belangnya. Maka manusia yang belangnya berupa tulisan yang bisa dibaca oleh manusia dari zaman ke zaman namanya akan terus hidup. Namanya akan terus disebut sebagai penlis ini atau itu.
Kalimat berikutnya menawarkan sesuatu yang lain. Menawarkan untuk tetap berilmu dengan menulis. Maksudnya manusia yang mudah lupa itu akan diingatkan melaului tulisannya sendiri. Pelajaran-pelajaran yang diperoleh saat berada di sekolah dasar akan mudah teringat dengan membuka kembali tulisan-tulisan lama.
Selain dari itu adalah bahwa musti ada sistem dokumentasi yang canggih. Apabila tulisan-tulisan berserakan tanpa dokumentasi maka mustahillah mendapatkan keabadian atau kembali mengulangi pelajaran. Keabadian itu musnah dengan sekejap oleh pendokumentasian yang amburadul. Atau ilmu akan menguap dengan hilangnya tulisan-tulisan.
Untuk menjadi penulis, baik itu berupa ilmu sebagai ilmuwan atau cerita sebagai sastrawan, kedua-duanya membutuhkan kedisiplinan. Kalau dilihat dari penampilan memang kedua-duanya seperti mengabaikan hal-hal yang kecil. Seperti bangun siang, jarang mandi, rambut gondrong yang kumal atau pakaian yang seadanya. Dan semua itu sangat masuk akal dalam penjelasannya. Tapi dalam penampilan yang demikian itu tersimpan rapi kedisiplinan dan pendokumentasian yang orang banyak tidak mengetahui. Dan para penulis ini jarang yang mau berbagi tentang rahasia ini. Dan biarlah penulis-penulis menemukan caranya sendiri untuk menelurkan apa-apa yang ada dalam pikirannya.
Bangun siang memang seperti kebiasaan buruk. Tapi apa salahnya kita menelisik lebih jauh tentang ini. Jika benar bahwa malam adalah kegelapan surga yang diturunkan ke bumi maka menemani malam adalah persiapan untuk menjadi penghuni surga. Dengan berkah-berkah surga maka apa-apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pemikir-pemikir menemukan pemikiran yang menakjubkan melalui perenungan dimalam hari. Dan hingga malam beranjak pemikir itu baru menyadari bahwa pagi hampir tiba dan baru memejamkan mata. Maka wajarlah mereka, para pemikir itu hampir selalu bagun siang. Tentu dengan hasil-hasil yang mengejutkan. Bukan untuk bersenang-senang atau semacamnya.
Jarang mandi. Siapa bilang penulis jarang mandi? Atau ilmuwan dan sastrawan jarang mandi? Bahkan mandi itu menyegarkan tubuh dan pikiran yang selalu bisa menyelesaikan masalah ketika tulisannya mengalami kebuntuan. Pasti para penulis itu bisa saja mandi sehari lima kali atau lebih untuk mendulang pikiran yang lebih jernih dan lebih segar. Tapi perlu diingat bahwa pekerjaan menulis bukan pekerjaan mudah. Kadang penulis sampai tertidur dalam menyelesaikan naskah tulisananya. Atau sesekali mereka tak pernah beranjak dari tulisannya hanya untuk menjaga ritme tulisan yang memang sudah tertulis diotaknya. Apabiala ditinggalkan untuk mandi maka bisa saja semua sirna tersiram air. Digantikan dengan ide baru yang sepertinya lebih memukau dan tulisan sebelumnya belum selesai. Maka sebaiknya tulisan diselesaikan selagi alur di kepala masih terus berjalan.
Rambut gondrong. Yang katanya semakin rambut perempuan itu pendek maka semakin pendek pula pikirannya. Bisa jadi inilah alasanya para penulis berambut gondrong. Tapi penulis-penulis jaman ini telah berubah. Bahkan Pram pun rambutnya plontos. Jadi bukan setandart kalau penulis harus berambut panjang.
Seorang penulis yang tentunya memiliki kemampuan lebih bukan memandang sesuatu dari pakainya. Untuk apa pakaian mewah yang hanya menutupi tubuhnya ketika otak dungu? Atau jangan menilai buku dengan melihat sampulnya.
Terakhir lagi pernah kudapatkan sesuatu yang berkaitan dengan tulisan. Tulis apa yang kamu lakukan dan lakukan apa yang kamu tulis. Ini adalah hal yang luar biasa ketika dipraktekkan. Sebisa mungkin akan mudah menilai sebuah hari dengan membaca tulisan. Kemudian apa-apa yang perlu diperbaiki maka perbaikilah. Sedang apa yang sudah baik maka lakukanlah kembali. Dan tulisan tentang apa yang telah dilakukan waktu kemarin bisa menjadi acuan pada langkah berikutnya.

Mari menulis entah untuk alasan apapun. Tapi membiasakan menulis bukan sesuatu yang merugikan. Selamat belajar menulis kawan.